Senin, 16 Januari 2012

Spesies Baru, Tumbuhan Pemakan Hewan


Sebuah pohon pemakan tikus akhirnya diresmikan sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan, 7 tahun setelah pohon itu dipamerkan di ajang Chelsea Flower Show. Pohon karnivora terbesar di dunia –dengan diameter bunga mencapai 2,5 meter– itu sebenarnya sudah jadi pusat perhatian pengunjung sejak 5 tahun terakhir.

Pengembang pohon ini sendiri sukes mendapatkan empat medali emas dari Royal Horticultural Society, namun meski telah menjadi pohon paling banyak difoto sepanjang sejarah, baru saat ini saja pohon karnivora terbesar itu tersebut diakui sebagai spesies tanaman baru.

Nepethes robcantleyi, nama baru untuk pohon ini, diberikan setelah sampel daun dan fotonya diberikan pada Martin Cheek, pakar klasifikasi tumbuhan dari Royal Botanic Gardens, Inggris.

“Ini bukanlah cara yang biasa untuk menemukan spesies baru,” kata Cheek, dikutip dari Independent, 26 Desember 2011. “Penemuan ini sangat tidak lazim dan merupakan kejutan besar,” ujarnya.

Cheek menyebutkan, saat ia diberikan sampel dan foto-foto pohon tersebut, tidak perlu waktu lama baginya mendapati spesies ini adalah spesies baru bagi ilmu pengetahuan. “Tumbuhan ini sangat besar, dramatis, dan spektakuler,” kata Cheek.

Untuk memangsa hewan, tanaman ini punya celah di bunganya sehingga bisa memancing serangga, reptil, sampai hewan mamalia masuk ke dalam kawah yang penuh asam klorida dan enzim yang mampu mengurai tubuh hewan itu untuk dijadikan nutrisi. Kandungan zat-zat yang ada di dalam bunga itu sendiri serupa dengan isi perut manusia.

Nepethes robcantleyi sendiri pertamakali ditemukan oleh Rob Cantley, mantan polisi asal Hong Kong yang beralih profesi ke industri tanaman. Pohon itu ia temukan pada tahun 1997 saat ia menjelajah hutan lindung di Mindanao, Filipina. Ia kemudian mengumpulkan beberapa bibit dan berhasil menumbuhkannya.

 “Di kebun kami banyak tikus dan mereka seringkali tertangkap oleh pohon tersebut dan kami terpaksa mengeluarkan tikus-tikus itu,” kata Cantley. “Tumbuhan bisa mencerna tikus-tikus itu, tetapi kami tidak bisa. Baunya sangat menjijikkan,” ujarnya.

Nepethes robcantleyi – nama tanaman itu – pertamakali ditemukan oleh Rob Cantley, mantan polisi asal Hong Kong yang beralih profesi ke industri tanaman tahun 1997 di Mindanao, Filipina. (arcor.de)
Di alam bebas, kata Cantley, tumbuhan ini mungkin makan tanaman lain atau serangga. “Namun di penangkaran, mereka seringkali menangkap hewan lain seperti tikus dan kadal kecil,” dia menambahkan.

sumber: www.vivanews.com 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar